Mengenai Saya

Foto saya
Bukan apa-apa,bukan siapa-siapa,cuma mahluk kecil yang hidup di dunia yang begitu luas. Ingin menjadi penulis,designer,dokter kecantikan, sekian.

Sabtu, 29 Januari 2011

Maafkan aku,,,,,,


Dia yang tertatih-tatih hanya untuk mengejar benda tersebut, benda yang menurutku tidak penting dan bisa dibeli dengan harga yang cukup murah. Dia adalah adik kesayanganku, Jian. Dia laki-laki, tetapi tidak bisa bermain layang-layang. Aneh juga... walaupun dia tidak bisa bermain layang-layang, dia tetap nekat untuk mengejar layang-layang tersebut agar dia bisa bermain layang-layang bersama temannya. “sudahlah.... kakak capek nih!” keluhku sambil mengelap keringatku yang sudah bercucuran. “ya udah! Kakak istirahat dulu aja.... aku duluan ya kak!” ucapnya. Aku melihat punggungnya yang semakin menjauh mengejar layangan yang hampir jatuh ke permukaan tanah itu. Lalu aku segera pulang ke rumah karena merasa haus mengejar layangan butut itu.


“kakak! Lihat! Aku sudah mendapatkan layang-layang yang sudah susah payah kita kejar!!” aku tersenyum melihatnya bahagia walaupun hanya mendapatkan layangan butut itu. “iya... gitu dong! JIAN!!” ucapku menyemangati. “iya dong! Kita pergi yuk!”ajak Jian. “pergi kemana?” “ada deh... makanya kakak ikut aku aja...” ucap Jian.
“bagus kan?? Banyak anginnya lagi...” ucap Jian saat kita sampai di tempat yang Jian maksud. “iya, bagus! Ini emang khusus buat main layangan ya?” tanyaku bingung. “iya... bagiku tempat ini adalah istana layangan... kita bisa main layangan sepuasnya disini...” jelasnya. “kak! kita mainnya di sana aja yuk! Disini terlalu banyak orang...”lanjutnya. “tapi kan disana bahaya, deket jalan...” ucapku. “gak papa kok kak! aku kan sekarang sudah besar....” jelasnya.
Aku tertawa kecil  melihatnya berusaha untuk menerbangkan layang-layang itu. “kalau tidak bisa, gak usah dipaksain lah!” ucapku sedikit mengejek. “ Biarin aja!” ucap Jian dengan nada kesal. “hihihihi... dasar aneh!” ucapku. Lalu aku pulang ke rumah sebentar mengambil minuman untuk minum Jian, sepertinya dia kelelahan bermain layangan.
Saat itulah yang paling kubenci, aku tak pernah ingin mengingatnya lagi. Dia pergi, pergi untuk selama-lamanya. Jian tewas tertabrak mobil yang melaju cepat saat dia ingin mengambil layangan yang terlepas dan jatuh di tengah jalan. Aku sempat diam, dan semua terasa begitu lambat melihat adik kesayanganku sudah kembali kepada-Nya. Lalu aku berjalan perlahan melihat kerumunan orang-orang yang mengerumuni adikku yang dipenuhi darah yang sangat banyak. Dia masih kecil, umurnya saat itu 7 tahun, sedangkan aku berumur 15 tahun.
Sejak adikku kecelakaan dan meninggal dunia, ibuku terus menangis didalam kamar menangisi kepergian adikku. Terkadang ibu lupa bahwa Jian sudah meninggal dunia sehingga ibu seperti biasa menyiapkan susu coklat kesukaannya dan memanggil nama Jian setiap pagi seperti rutinitas kami sehari-hari bersama Jian yang kini sudah tak ada lagi, aku sempat khawatir dengan keadaan ibu seperti itu.
Sampai suatu ketika, saat aku pulang sekolah... “Riri! Kesini sebentar....” suara ibu memanggilku saat aku sedang membuka sepatuku di teras. “iya sebentar...” ucapku lalu memasuki ruang keluarga tempat ibu berada. Kulihat seorang anak lelaki berwajah polos dan lugu duduk disamping ibu yang sedang membelai kepalanya. “ini adalah adikmu, sayang...” aku sempat terdiam dan bingung sambil menghampiri ibu, ayah, dan anak itu lalu duduk di samping ayah. “adik?” tanyaku pelan sambil menoleh kearah ayah,lalu ayah mengangguk. “namanya Bima... dia diangkat menjadi anak di panti asuhan dekat kantor ayah Ri....” jelas ayah kepadaku. Aku sempat kesal melihat kehadiran anak itu. GAK ADA YANG BISA MENGGANTIKAN JIAN! Aku langsung pergi meninggalkan ayah,ibu,dan anak itu lalu segera memasuki kamar.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku. “siapa?” ucapku sedikit membentak. “ini ayah sayang..” ucap ayah lalu memasuki kamarku dan menghampiriku. “maaf tadi aku sedikit membentak dan meninggalkan ayah dan ibu begitu saja...” ucapku dengan nada penyesalan. “ayah tahu perasaanmu bagaimana sayang, tapi ayah juga tak tega melihat ibu menangis terus karena kehilangan adikmu Jian. Hanya Bima lah satu-satunya yang bisa membuat ibumu tenang tanpa ada kehadiran Jian... bersikaplah bijak sayang, demi ibumu. Dan kau juga harus bisa menerima Bima sebagai adikmu....” jelas ayah. “baik, aku akan mencoba menerimanya.... tapi hanya demi ibu!” ucapku tegas. Ayah hanya tersenyum.. Lalu meninggalkanku sendirian. Ya, ini hanya DEMI IBU! Bukan berarti aku menerima dia sebagai adikku... adikku hanya Jian seorang...
“kakak! Main yuk!” ajak Bima kepadaku saat aku sedang bermain dengan laptopku dikamar. “Jangan pernah memanggilku kakak!” ucapku sambil mendobrak meja. Aku sempat melihat dia seperti kaget melihat sikapku, lalu segera pergi keluar kamar. Syukurlah! Tapi aku merasa sedikit bersalah... tidak! Aku tidak salah sama sekali! Salah sendiri memanggilku kakak... hanya Jian saja yang bisa memanggilku kakak.
“dia itu lucu tau! Seandainya dia menjadi adik angkatku, aku rela dipanggilnya kakak!” “sudahlah! Diam saja, kau tak tahu apa-apa sih...” ucapku mencibir. “tapi kan tetap saja, dia itu anak kecil Ri, lagian dia juga gak punya salah apa-apa kan?” ucap Dira sahabatku. iya juga ya?kenapa aku benci sama Bima?tapi tetep aja dia orang yang udah berusaha menghapus ingatan ibu tentang Jian. “udah ah! aku mau beli makanan dulu!” ucapku kepada Dira lalu meninggalkan dia dikelas.
“assalammualaikum....!!” ucapku sambil melempar tas ke sofa ruang tamu. “waalaikum sallam neng....” ucap pembantuku membawakan tas ku kedalam kamar. Aku lalu berbaring di tempat tidurku lalu memalingkan wajah kesebelah kananku dan melihat fotoku bersama adeku yang berada diatas meja belajar. Lalu aku bangun dan mengambil foto tersebut dan membersihkan debu yang menempel pada foto itu. Jadi teringat saat-saat terakhirku bersama Jian. Ini semua salahku! Seandainya aku tidak meninggalkannya, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Aku melempar foto itu ke kasur dan langsung membuka jendela kamarku untuk menghirup udara yang sejuk. Aku melihat ke semua sudut yang tampak indah jika dilihat dari sini. Ada satu hal yang membuatku teringat akan sesuatu yang sangat pahit. Aku melihat layang-layang yang sedang terbang di langit. Dan kulihat kearah lapangan yang sedang ramai dikunjungi anak-anak untuk bermain layang-layang. Ya! itu adalah tempat terakhirku bersama Jian. Secepatnya aku menutup jendela dan masuk kedalam kamar mandi. Aku membasuh wajahku yang sudah dipenuhi air mata. Aku bingung, lemas, sedih, mengingat semuanya tentang adikku.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarku. “siapa?” tanyaku lemas. Tanpa menjawab apapun, tiba-tiba orang itu masuk kedalam kamarku. Saat aku keluar dari kamar mandi, aku melihat Bima yang sedang menatap lembut fotoku bersama adikku. Aku segera menghampirinya dan merebut foto itu dari genggamannya. “maaf kak jika aku sangat tidak sopan memasuki kamar kakak...” “berhentilah menyebutku kakak bodoh!” bentakku. Aku sempat melihat dia hampir menangis lalu tersenyum kembali dan menghapus air matanya. “aku memang bodoh, tapi salahkah aku jika aku memanggilmu dengan sebutan kakak?sebenarnya apa salahku?” “kamu ingin tau apa salahmu? salahmu adalah masuk kedalam keluarga ini dan mencoba menghapus semua ingatan ibu tentang Jian! Puas?” ucapku kasar sambil menangis. Bima terlihat sangat sedih sekali dan berlari keluar kamarku.
 “neng, ada apa?kok kasar gitu ma ade sendiri toh?” tiba-tiba Bi Inah masuk kedalam kamarku dan duduk disebelahku. Aku tidak bisa menahan tangis aku sangat sedih sekali berbicara kasar padanya. “bi, tolong kejar Bima bi! Dan hibur dia...” ucapku sambil menghapus air mataku. “baik neng, tunggu sebentar...” Bi Inah langsung pergi meninggalkanku sendiri dikamar untuk mengejar Bima. Tak lama kemudian, ayah masuk ke dalam kamarku dan duduk disampingku, “sebenarnya apa yang terjadi sayang?tadi kata Bi Inah kamu berantem sama Bima. Sekarang Bima lagi di ruang tamu nunggu kamu. Kamu mau ketemu?” tanya ayahku sambil membelai kepalaku. “tak usah ayah, aku sekarang mau dikamar dulu....”ucapku lalu berbaring di tempat tidur. “ya sudah kalau begitu...” lalu ayah pergi meninggalkan aku.
“huh...” ucapku mendesah. Teringat kata-kata yang kuucapkan tadi kepada Bima begitu kasar! Tidak seharusnya aku berkata begitu padanya. Aku sangat sedih sekali mengalami kejadian ini. Bima tidak salah apa-apa.... aku hanya tidak ingin Jian digantikan oleh oranglain. Hanya itu saja... aku hanya ingin punya 1 adik saja yang paling aku sayangi....  JIAN!
Keesokan harinya, aku melihat Bima yang tengah asik bermain air di sisi kolam renang. Aku  senang melihatnya sangat bahagia. Jadi teringat saat aku bermain air bersama Jian di kolam renang dulu. Saat itulah merupakan hari bahagiaku dengan Jian. Lalu aku menghampiri Bima dan duduk di sebelahnya. “maafin kakak soal kemarin... mungkin kemarin itu kakak lagi emosi aja.... maafin kakak ya?” kulihat Bima tersenyum lalu berkata, “iya, lagian itu adalah salahku.... aku yang selalu memaksa memanggilmu kakak. Padahal kan aku sudah diperingatkan untuk tidak memanggilmu kakak... hihihihi... aku itu bandel ya!” ucap Bima sambil tertawa. Sekilas aku melihatnya mirip Jian, lalu aku langsung memeluknya. “kamu boleh panggil kakak sekarang dan selamanya...” “be,benarkah?” “iya....” ucapku sambil menangis dipelukan Bima. Hari itu merupakan hari bahagia bagiku.
Sampai suatu hari, ketika aku sedang belajar dikamar... “DOR! Sibuk belajar terus... kita main yuk!” ajak Bima padaku. “sebenernya sih mau, tapi” “ya sudah kalau begitu ayo kita main!” ucap Bima menarik tanganku. Saat itu Bima menarikku sampai ke ruang makan. “kok! Main di ruang makan sih?” Bima hanya tersenyum lalu menyuruhku duduk di kursi. “HAPPY BIRTHDAY TO YOU!!” ayah, ibu, Bima, dan Bi Inah membawa kue yang bertuliskan, ‘Happy Birthday To You Riri’ aku senang sekali. “selamat ulang tahun sayang... tambah pinter ya...”ucap ayahku lalu mencium dahiku. “iya...semoga panjang umur,sehat selalu, dan dimurahkan rezekinya ya...”ucap ibuku. “iya.... amiinn...” ucapku. Inilah keluarga kecilku yang hangat dan bahagia. Ayah,ibu, Bima, aku, dan Bi Inah yang sudah ku anggap keluarga sendiri. “kakak! Ada yang ingin aku perlihatkan pada kakak! Tapi kakak harus menutup mata kakak dulu!” ucap Bima sambil menarik tanganku. “ih! Mau memperlihatkan apa sih? Pake tutup mata segala!” “udah... ikutin aja mau aku..” ucap Bima. “ayah, ibu, kita mau pergi dulu ya!” ucapku lalu mengikuti Bima.
Saat aku membuka mataku....
“gimana?? Bagus kan??ini hadiah buat kakak dariku!” ucap Bima padaku. Aku melihat ke sekeliling tempat itu, terdapat banyak anak-anak sedang bermain layang-layang di lapangan itu. “iya, bagus...” ucapku masih melihat-lihat ke sekeliling lapangan itu. “ayo sekarang kita main!” “tunggu dulu... main apa?” tanyaku bingung. “ya main layangan lah kak! Ayo!”ucap Bima lalu menarik tanganku. “tapi.... bukannya kamu gak bisa bermain layang-layang?” aku melihat dia bingung. “kakak, aku bisa bermain layang-layang....”ucap Bima.  Apa yang terjadi padaku?? Sekilas aku teringat tempat ini... ini adalah....  tempat terakhirku dengan Jian.
 “kakak kenapa nangis??” tanya Bima bingung. “ayo kita pergi dari tempat ini!” ucapku sambil berlari meninggalkan Bima. “kakak!” panggil Bima sambil menahan tanganku. “ada apa lagi sih?”ucapku sambil membentak “kakak kenapa pergi?kita kan belum main... ini hadiah buat kakak dariku!” jelasnya. “buang saja jauh-jauh hadiah menyedihkan itu! Aku tak ingin kesana lagi!!” lagi-lagi aku berkata kasar pada Bima. Aku langsung berlari menyebrangi jalanan, seketika ada orang berteriak, “AWAS DE!!” tanganku ditarik oleh seseorang untuk menghindar dari mobil yang hampir menabrakku. Ternyata orang yang menarikku adalah Bima...
 “Bima?!” ucapku kaget. “aku sayang kakak! Maafin aku misalnya aku bikin kakak sedih...” ucap Bima lalu memelukku. “aduh de! Hati-hati kalau nyebrang ya... untung aja adikmu menolongmu...” ucap seorang ibu-ibu yang berteriak tadi. “iya bu... makasih sudah memberi tahu saya...” “sama-sama de! Lain kali harus liat kana-kiri dulu ya!” ucap ibu itu lalu pergi meninggalkan kami. Banyak orang yang melihat kejadian itu. “Bima, kenapa tadi kamu nolong kakak?misalnya kamu nanti ketabrak,gimana coba?” ucapku sambil mengelus kepalanya. “dari bayi aku gak pernah merasakan punya ayah,ibu, dan kakak... dulu aku ingin sekali punya keluarga. Sampai suatu ketika ibu mengangkatku sebagai anak. Aku sangat sedih sekali saat kakak membenciku. Dan saat kakak mulai menyayangiku, aku gak mau kehilangan kasih sayang dari kakak! Aku sayang kakak!” Saat itu aku baru sadar... bahwa ada seseorang yang sangat menyayangiku melebihi nyawanya, yaitu Bima. “maafin kakak ya... kalau selama ini kakak selalu kasar sama kamu... kakak juga sayang banget sama Bima!” ucapku tulus dari hati. Baru kali ini aku menyayangi seseorang sama seperti Jian. Orang yang paling aku sayang adalah Jian. Gak ada yang bisa menandingi Jian dihatiku, ayah, bahkan ibu sekalipun gak bisa menggantikan Jian dihatiku. Namun kali ini lain, ada seseorang yang bisa menandingi Jian dihatiku, yaitu Bima. “kakak tulus sayang sama kamu...” ucapku dengan hati lirih. “kakak menyesal pernah membuatmu menangis...” ucapku lalu melepaskan pelukanku. “kakak janji akan menjagamu Bima...” ucapku sambil tersenyum kepada Bima. “makasih kak!” ucap Bima sambil tersenyum kepadaku.
Aku berjanji, aku akan selalu menjagamu Bima. Dan akan selalu menjaga Jian dan Bima dihatiku selamanya....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar